RESUME STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

                                             RESUME STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

strategi belajar mengajar

strategi belajar mengajar

Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag

Drs. Aswan Zain

NAMA : FERLIANA ISHADI

BAB I

PENDAHULUAN

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.

Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah, bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektual, psikologis, dan biologis.

Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik di sekolah. Hal itu pula yang menjadi tugas cukup berat bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik.

Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Hanya sayangnya pengelolaan kelas yang baik tidak selamanya dapat dipertahankan, disebabkan pada kondisi tertentu ada gangguan yang tidak dikehendaki datang dengan tiba – tiba dan di luar kemampuan guru adalah kendala spontanitas dalam pengelolaan kelas. Dengan hadirnya kendala spontanitas suasana kelas biasanya terganggu yang ditandai dengan pecahnya konsentrasi anak didik. Setelah peristiwa itu, tugas guru adalah bagaimana supaya anak didik kembali belajar dengan mempertahankan tugas belajar yang diberikan oleh guru.

Pengembangan variasi mengajar yang dilakukan oleh guru pun salah satunya adalah dengan memanfaatkan variasi alat bantu, baik dalam hal ini variasi media pandang, variasi media dengar, maupun variasi media taktil. Dalam pengembangan variasi mengajar, metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Penggunaan metode gabungan dimaksudkan untuk menggairahkan belajar anak didik. Dengan bergairahnya belajar, anak didik tidak sukar untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena bukan guru yang memaksakan anak didik untuk mencapai tujuan, tetapi anak didiklah dengan sadar untuk mencapai tujuan.

Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar.

BAB II

KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

  1. Pengertian Strategi Belajar Mengajar

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis- garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola – pola umum kegiatan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal – hal berikut :

  1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
  2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
  3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
  4. Menetapkan norma – norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
  5. Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar

Menurut Tabrani Rusyan, dkk., terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan seperti berikut :

  1. Konsep dasar strategi belajar mengajar, berikut adalah beberapa hal yang meliputinya :
    1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku.
    2. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar.
    3. Memilih prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar, dan
    4. Menerapkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
  2. Sasaran kegiatan belajar mengajar, mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni Tujuan Instruksional Khusus dan Tujuan Instruksional Umum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal. Sasaran itu harus diterjemahkan ke dalam ciri – ciri perilaku kepribadian yang didambakan. Pada tingkat sasaran tujuan universal, manusia yang diidamkan tersebut harus memiliki kualifikasi :
    1. Pengembangan bakat secara optimal.
    2. Hubungan antar manusia.
    3. Efisiensi ekonomi, dan
    4. Tanggung jawab selaku warga negara
  3. Belajar mengajar sebagai suatu sistem. Belajar mengajar selaku suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Selaku suatu sistem, belajar mengajar meliputi suatu komponen, anatara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antarsesama komponen terjadi kerjasama.
  4. Hakikat proses belajar mengajar. Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar mengajar, menilai proses, dan hasil belajar. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.
  5. Entering behavior siswa. Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perilaku, baik secara material – subtansial, struktur-fungsional, maupun secara behavior.

Menurut Abin Syamsuddin, enterin behavior akan dapat diidentifikasi dengan cara :

  1. Secara tradisional, telah lazim para guru mulai dengan pertanyaan mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
  2. Secara inovatif, guru tertentu di berbagai lembaga pendidikan yang memiliki atau mampu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan memenuhi syarat, mengadakan pre-tes sebelum mereka mulai mengikuti program belajar mengajar.

Gambaran tentang entering behavior, ialah siswa banyak menolong guru yang antara lain :

  1. Untuk mengetahui seberapa jauh kesamaan individual siswa dalam taraf kesiapannya, kematangan, serta tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan dasar penyajian bahan baku.
  2. Diketahuinya disposisi perilaku siswa tersebut akan dapat dipertimbangkan dan dipilih bahan, prosedur, metode, teknik serta alat bantu belajar mengajar yang sesuai.
  3. Dengan membandingkan nilai proses dengan nilai hasil pasca-tes atau setelah menjalani program kegiatan belajar mengajar, guru akan mendapat petunjuk seberapa jauh dan seberapa banyak perubahan perilaku itu telah menjadi dalam diri siswa.

Ada tiga dimensi entering behavior yang perlu diketahui oleh guru :

  1. Batas – batas ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai oleh siswa.
  2. Tingkatan tahapan materi pengetahuan, terutama kawasan pola – pola sambutan atau kemampuan yang telah dimiliki siswa.
  3. Kesiapan dan kematangan fungsi – fungsi psikofisik.
  4. Pola – pola Belajar Siswa

Robert M. Gagne membedakan pola – pola belajar siswa ke dalam delapan tipe, yakni :

 

 

  1. Signal Learning ( Belajar Isyarat )

Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola – pola dasar perilaku bersifat involuntary ( tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya ).

  1. Stimulus-Respons Learning ( Belajar stimulus-respons )

Belajar tipe ini termasuk dalam jenis classical condition atau belajar dengan trial and error ( mencoba – coba ).

  1. Chaining ( Rantai atau Rangkaian )

Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R ( Stimulus-Respons ) yang satu dengan yang lain.

  1. Verbal Association ( Asosiasi Verbal )

Verbal association yaitu belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lain.

  1. Discrimination Learning ( Belajar Diskriminasi )

Dalam tipe ini, anak didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola – pola respons yang dianggap paling sesuai. Anak didik sudah diwajibkan mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman.

  1. Concept Learning ( Belajar Konsep )

Concept learning adalah belajar pengertian.

  1. Rule Learning ( Belajar Aturan )

Rule learning belajar membuat generalisasi, hokum, dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah – kaidah logika formal sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dipandang sebagai “rule”.

  1. Problem Solving

Problem solving adalah belajar memecahkan masalah.

  1. Memilih Sistem Belajar Mengajar

Berbagai system pengajaran yang menarik perhatian akhir – akhir ini, adalaha :

  1. Enquiry – discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan diri – sendiri.

Langkah – langkah dalam menyelesaikan masalah :

  1. Merumuskan dan menegaskan masalah
  2. Mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis.
  3. Mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan
  4. Mengadakan pengujian dan verifikasi.
  5. Ekspository Learning, dalam sistem ini, guru menyajikan dalam bentuk yanbg telah dipersiapkan secara rapi, sistematis, dan lengkap, sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur.
  6. Mastery Learning, dalam kegiatan mastery learning ini guru harus mengusahakan upaya – upaya yang dapat mengantarkan kegiatan anak didik ke arah tercapainya penguasaan penuh terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Menurut Dr. Suharsimi Arikunto, secara garis besar kegiatan pengayaan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
    1. Kegiatan pengayaan yang berhubungan dengan topik modul pokok.
    2. Kegiatan pengayaan yang tidak berhubungan dengan topik modul pokok.
    3. Humanistic Education
    4. Pengorganisasian kelompok belajar
      1. Implementasi Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi. Salah satu yang mendukung  kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah job description proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok – kelompok siswa. Tahap – tahap pengelolaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar dapat diperinci sebagai berikut :

  1. Perencanaan
  2. Pengorganisasian
  3. Pengarahan
  4. Pengawasan

Bila persoalan belajar keterampilan proses itu dikaitkan dengan CBSA (cara belajar siswa aktif), maka tampak beberapa kesamaan konseptual. Baik belajar konsep, maupun belajar keterampilan proses, keduanaya mempunyai ciri – ciri:

  1. Menekankan pentingnya makna belajar untuk mencapai hasil belajar yang memadai.
  2. Menekankan pentingnya keterlibatan siswa di dalam proses belajar.
  3. Menekankan bahwa belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh anak didik.
  4. Menekankan hasil belajar secara tuntas dan utuh.

Dalam melayani kegiatan belajar aktif, pengelompokan siswa mempunyai arti tersendiri. Pengelompokan siswa dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu:

  1. Menurut kesenangan berteman
  2. Menurut kemampuan
  3. Menurut minat

Untuk itu, guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar tersebut. Upaya yang dapat dilakukan guru antara lain:

  1. Melalui karyawisata
  2. Melalui seminar

 

BAB III

HAKIKAT, CIRI, DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan.Gurulah yang menciptakannya guna memelajarkan anak didik.Guru yang mengajarkan dan anak didik yang belajar.Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah intraksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya.

Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untukmenciptakan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ke tujuan. Di sini tentu saja tugas guru berusaha menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan bagi semua anak didik.Suasana belajar yang tidak menggairahkan dan menyenangkan bagi anak didikbiasanya lebih mendatangkan kegiatan belajar mengajar yang kurang harmonis.

  1. A.      Hakikat Belajar Mengajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan adalah pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya.Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.

 

Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatkan individu anak didik.Hal ini perlu sekali guru sadari agar tidak terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu dalam konsep pengajaran.

 

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi. Lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. (Nana Sudjana, 1991:29)

 

Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru.

 

  1. B.       Ciri – ciri Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri – ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut :

  1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membuat anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.
  2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur, atau langkah – langkah sistematik yang relevan.
  3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa,sehingga cocok untuk mencapai tujuan.
  4. Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sebagai konsekuensi, bahwa anak didik merupakan syarat multak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
  5. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam peranannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses yang kondusif.
  6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar.
  7. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan.
  8. Evaluasi. Dari seluruh kegiatan di atas, maslah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan, setelah guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

 

  1. C.      Komponen – komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi. Penjelasan dari setiap komponen sebagai berikut :

 

  1. 1.        Tujuan

Tujuan adalah suatu cita – cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan kea rah mana kegiatan itu akan dibawa.

Tujuan dalam endidikan dan pengajaran adalah suatu cita – cita yang bernilai normative. Dengan perkataan lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik.

Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran yang lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi.Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin.

  1. 2.        Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran adalah subtansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik.

Bahan pelajaran menurut Dr. Suharsimi Arikunto (1990) merupakan unsur inti yang ada di dalam belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupyakan untuk dikuasai oleh anak didik.

  1. 3.        Kegiatan Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan inti dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana yang telah ditetapkan dapat dicapai.

Dalam kegiatan belajar mengajar guru, sebaiknya memperhatikan perbedaan individu anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis.

 

  1. 4.        Metode

Metode adalah suatu cara yang dipengaruhi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaanya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seseorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991:72)

Prof. Dr. Winarto Surakhmad, M. Sc. Ed., mengemukakan lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar sebagai berikut :

  1. Tujuan yang berbagai – bagai jenis dan fungsinya;
  2. Anak didik yang berbagai – bagai tingkat kematangannya;
  3. Situasi yang berbagai – bagai keadaannya;
  4. Fasilitas yang berbagai – bagai kualitas dan kuantitasnya;
  5. Pribadi guru seta profesionalnya yang berbeda – beda.

 

  1. 5.        Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujaun pengajaran. Sebagai segala yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989:51)

Sebagai alat bantu dalam pendidikan dan pengajaran, alat material (audiovisual) mempunyai sifat sebagai berikut:

  1. Kemampuan untuk meningkatkan persepsi;
  2. Kemampuan untuk meningkatkan pengertian;
  3. Kemampuan untuk meningkatkan transper (pengalihan) belajar;
  4. Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcement) atau pengetahuan hasil yang dicapai;
  5. Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan).

 

  1. 6.        Sumber Pelajaran

Yang dimaksud dengan sumber – sumber bahan dan belajar adalah sebagai suatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar sesorang (Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata, 1991:165)

Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana – mana : di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagaimya.Pemanfaatan sumber – sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya, seta kebijakan – kebijakan lainnya. (Drs. Sudirman N. dkk., 1991:203)

Ny. Dr. Roestiyah, N.K. (1989:53) mengatakan bahwa sumber – sumber belajar itu adalah :

  1. Manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat)
  2. Buku/perpustakaan
  3. Mass media (majalah, surat kabar, radio, tv, dan lain – lain)
  4. Dalam lingkungan
  5. Alat pengajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, papan tulis, dan lain – lain)
  6. Museum (tempat penyimpanan benda – benda kuno)

 

Drs. Sudirman N, dkk. (1991:203) mengemukakan macam – macam sumber belajar sebagai berikut :

  1. Manusia (people)
  2. Bahan (materials)
  3. Lingkungan (setting)
  4. Alat dan perlengkapan ( tool and equipment)
  5. Aktivitas ( activities)

 

Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata (1991:165) berpendapat bahwa terdapat sekurang – kurangnya lima macam sumber belajar, yaitu :

  1. Manusia
  2. Buku/perpustakaan
  3. Media massa
  4. Alam lingkungan
    1. Alam lingkungan terbuka
    2. Alam lingkungan sejarah atau peninggalan sejarah
    3. Alam lingkungan manusia

Dengan demikian pembahasan mengenai sumber – sumber belajar dan dalam pembahasan berikut, akan dikemukakan pembicaraan masalah evaluasi.

  1. 7.        Evaluasi

Menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, (1983:1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala yang sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K. (1989:85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas – luasnya, sedalam – dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

 

  1. Tujuan umum dari evaluasi adalah :
    1. Mengumpulkan data – data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
    2. Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat.
    3. Menilai metode mengajar yang dipergunakan.
  2. Tujuan khusus dari evaluasi adalah :
    1. Merangsang kegiatan siswa.
    2. Menemukan sebab – sebab kemajuan atau kegagalan.
    3. Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan, dan bakat siswa yang bersangkutan.
    4. Memperoleh bahan laporan tentang perkebangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan.
    5. Untuk memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode mengajar. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 1991:189)

 

 

BAB IV

BERBAGAI PENDEKATAN DALAM BELAJAR MENGAJAR

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarang yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.

  1. A.      Pendekatan Individual

Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran.Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individualini.Pemilihan metode tidak begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

  1. B.       Pendekatan Kelompok

Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengmbangkan sikap social anak didik.Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik.Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing – masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas.

Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dangan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan.Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa rasa minder.

Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan – tarikan interpersonal, atau saling menyukai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamakan keakraban sebagai tarikan kelompok adalah merupakan satu – satunya faktor yang menyebabkan kelompok bersatu.

Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Perasaan diterima atau disukai teman – teman;
  2. Tarikan kelompok;
  3. Teknik pengelompokan oleh guru;
  4. Partisipasi/keterlibatan dalam kelompok;
  5. Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya;
  6. Struktur dan sifat – sifat kelompok. Sedangkan sifat – sifat kelompok itu adalah :
    1. Suatu multi personalia dengan tingkatan keakraban tertentu;
    2. Suatu sistem interaksi;
    3. Suatu organisasi atau struktur;
    4. Merupakan suatu motif tertentu dan tujuan bersama;
    5. Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu;
    6. Pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepribadian.

Akhirnya, guru dapat memanfaatkan pendekatan kelompok demi untuk kepentingan pengelolaan pengajaran pada umumnya dan pengelolaan kelas pada khususnya.

 

  1. C.      Pendekatan Bervariasi

Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, masa pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda – beda pula. Demikian juga dengan anak didik yang membuat keributan. Guru tidak bisa membuat teknik pemecahan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain.Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”

Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam – macam.Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus.Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

 

  1. D.      Pendekatan Edukatif

Pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru dengan menyuruh anak didik berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak anak didik dengan pendidikan akhlak mulia. Guru telah membimbing anak didik, bagaimana cara memimpin kawan – kawannya dan anak – anak lainnya, membina bagaimana cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi semua perintahnya yang bernilai kebaikan.

Kasuistis yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam – macam jenis dan tingkat kesukarannya.Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan individual, ada juga yang didekati dengan pendekatan kelompok,dan ada pula yang didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang enting untuk diingat adalah bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan edukatif.Pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif.Dan pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif.Dengan demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bernilai edukati, dengan tujuan mendidik. Tindakan guru karena dendam, marah, kesal, benci, dan sejenisnya bukanlah termasuk perbuatan mendidik, karena apa yang guru lakukan itu menurut kata hati atau memuaskan hati.

 

  1. a.      Pendekatan Pengalaman

Experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah.Pengalaman adalah guru tanpa jiwa, namun dicari oleh siapapun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekedar bicara, dan tidak pernah berbuat sama sekali.

Meskipun pengalaman diperlukan selalu dicari salama hidup, namun tidak semua pengalaman tidak bersifat mendidik (educative experience), karena pengalaman yang tidak bersifat mendidik (misedukative experience). Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak didik kea rah tujun pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu. Karena itu, ciri – ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah integrasi anak.Demikian pendapat Witherington.

Maka jadilah “pendekatan pengalaman” sebagai fase yang baku dan diakui peakiannya dalam pendidikan. Untuk pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi) dan tanya jawab mengenai pengalaman keagamaan siswa.

 

  1. b.      Pendekatan Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan.Bagi anak yang masih keil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi anak kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula.Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang – kadang makan waktu yang terlalu lama.Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya.Maka adalah penting, pada awal kehidupan anak, menanamkan kebiasaan – kebiasaan yang baik saja dan jangan sesekali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi, dan sebagainya.

 

  1. c.       Pendekatan Emosional

Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang.Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Perasaan, menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (1991:36), sebagai fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut “rasa senang dan tidak senang”, mempunyai sifat – sifat senang dan sedih/tidak senang, kuat dan lemah, lama dan sebentar, relatif, dan tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan jiwa.

Pendekatan emosional dimaksudkan di sini adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa agar bertambah kuat keyakinan akan kebesaran Allah S.W.T., dan kebenaran ajaran agamanya. Untuk mendukung tercapainya tujuan dari pendekatan emosional ini, metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, berita, dan sosiodrama.

 

  1. d.      Pendekatan Rasional

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta, yaitu Allah S.W.T. Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya yang diciptakan oleh Tuhan.Perbedaan terletak pada akal.Manusia mempunyai akal, sedangkan makhluk lainnya seperti bintang dan sejenisnya tidak mempunyai akal.Jadi, hanya manusialah yang dapat berpikir, sedangkan makhluk lainnya tidak mampu berpikir.

Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah.Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.

 

  1. e.       Pendekatan Fungsional

Pendekatan yang fungsioanal yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut.Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.

 

  1. f.       Pendekatan Keagamaan

Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai – nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, dihayati, dan diamalkan selam hayat siswa kandung badan.

 

  1. g.      Pendekatan Kebermaknaan

Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut :

  1. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan)
  2. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pemdekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
  3. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis. Suatu makna kalimat dapat berbeda sesuai situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ajaran diakui keberadaannya dalam bentuk lisan atau tertulis.
  4. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut, sebagai bahasa sasaran, baik lisan maupun tertulis.
  5. Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki siswa yang bersangkutan.
  6. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan asa depannya. Karena itu, pengalaman siswa harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
  7. Dalam proses belajar – mengajar, siswa merupaka subjek utama, tidak hanya sebagai objek belaka. Karena itu, ciri – ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
  8. Dalam proses belajar – mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya.

 

Akhirnya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif, pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

 

BAB V

KEPENDUDUKAN PEMILIHAN

DAN

PENENTUAN METODE DALAM PENGAJARAN

  1. Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar

Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata, dan memang betul – betul dipikirkan oleh seorang guru.

Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. A.M. (1988:90) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi sebagi alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang.
  2. Metode sebagai strategi pengajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Dra. Roestiyah. N.K. (1989:1), guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik – teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
  3. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tujuan adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang, artinya metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Bila tidak, maka akan sia – sialah perumusan tujuan tersebut.
  4. Pemilihan dan Penentuan Metode

Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan instruksional khusus.

Pembicaraan berikut mencoba membahas masalah pemilihan dan penentuan metode dalam kegiatan belajar mengajar, dengan uraian bertolak dari nilai strategis metode, efektivitas penggunaan metode, pentingnya pemilihan dan penentuan metode, hingga factor – factor yang mempengaruhi pemilihan metode pengajaran.

  1. Nilai strategis metode
  2. Efektivitas penggunaan metode
  3. Pentingnya pemilihan dan penentuan metode
  4. Factor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode :
  5. Anak didik
  6. Tujuan
  7. Situasi
  8. Fasilitas
  9. Guru
    1. Macam – macam Metode Mengajar

Patut untuk diketahui, bahwa metode-metode mengajar yang dibahas di sini belumlah semuanya dibicarakan dan untuk selanjutnya pembaca dapat menemukannya di dalam literatur lain. Metode – metode mengajar yang diuraikan berikut ini adalah :

  1. Metode proyek
  2. Metode eksperimen
  3. Metode tugas dan resitasi
  4. Metode diskusi
  5. Metode sosiodrama
  6. Metode demontrasi
  7. Metode problem solving
  8. Metode karyawisata
  9. Metode Tanya jawab
    1. Metode latihan
    2. Metode ceramah
  10. Praktik Penggunaan Metode Mengajar

Berikut akan dikemukakan kemungkinan kombinasi metode mengajar.

  1. Ceramah, Tanya Jawab, dan Tugas
  2. Ceramah, Diskusi, dan Tugas
  3. Ceramah, Demontrasi, dan Eksperimen
  4. Ceramah, Sosiodrama, dan Diskusi
  5. Ceramah, Problem Solving, dan Tugas
  6. Ceramah, Demontrasi, dan Latihan

 

BAB VI

KEBERHASILAN

BELAJAR MENGAJAR

  1. Pengertian Keberhasilan

Pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai.

Karena itulah, suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan instruksional khusus dari bahan tersebut.

  1. Indikator Keberhasilan

Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal – hal sebagai berikut:

  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
  3. Penilaian Keberhasilan

Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut :

  1. Tes Formatif. Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.
  2. Teori Subsumatif. Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa.
  3. Tes Sumatif. Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang tela diajarkan selama satu semester, satu atau dua tahun pelajaran.
  4. Tingkat Keberhasilan

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Istimewa / maksimal : Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
  2. Baik sekali/optimal : Apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
  3. Baik / minimal : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75% saja dikuasai oleh siswa.
  4. Kurang : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60 % dikuasai oleh siswa.
  5. Program Perbaikan

Program perbaikan hendaknya didasarkan pada taraf  atau tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang baru saja dilaksanakan.

  1. Apabila 75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar atau mencapai taraf keberhasilan minimal, optimal, atau bahkan maksimal, maka proses belajar mengajar berikutnya dapat membahas pokok bahasan yang baru.
  2. Apabila 75% atau lebih dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang, maka proses belajar mengajar berikutnya hendaknya bersifat perbaikan.
  3. Factor – factor yang Mempengaruhi Keberhasilan

Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai – sampai seorang guru berusaha sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajarannya dengan baik dan sistematik. Namun terkadang, keberhasilan yang dicita – citakan, tetapi kegagalan yang ditemui disebabkan oleh berbagai factor sebagai penghambatnya. Factor yang dimaksud. Sebagai berikut :

  1. Tujuan
  2. Guru
  3. Anak didik
  4. Kegiatan pengajaran
  5. Bahan dan alat evaluasi
  6. Suasana evaluasi

BAB VII

PENGGUNAAN MEDIA SUMBER

BELAJAR DALAM PROSES

BELAJAR MENGAJAR

  1. Pengertian Media

Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.

Dalam proses belajar mengajar kehadiranmedia mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Namun perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.

Akhirnya dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.

  1. Media sebagai Alat Bantu

Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan – pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik.

Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti globe, grafik, gambar, dan sebagainya.

Walaupun begitu, penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut sekehendak hati guru. Tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan. Media yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran tentu lebih diperhatikan. Sedangkan media yang tidak menunjang tentu saja harus disingkirkan jauh-jauh untuk sementara.

Akhirnya, dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu dalam proses belajar mengajar. Dan gurulah yang mempergunakannya untuk membelajarkan anak didik demi tercapainya tujuan pengajaran.

  1. Media Sebagai Sumber Belajar

Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat di mana-mana; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Udin Saripuddin dan Winataputra (199:65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku/perusahaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Karena itu, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.

Anjuran agar menggunakan media dalam pengajaran terkadang sukar dilaksanakan, disebabkan dana yang terbatas untuk membelinya. Menyadari akan hal itu, disarankan kembali agar tidak memaksakan diri untuk membelinya, tetapi cukup membuat media pedidikan yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pengajaran.

Untuk tercapainya tujuan pengajaran tidak mesti dilihat dari kemahalan suatu media, yang sederhana juga bisa mencapainya, aslakan guru pandai menggunakannya. Maka, guru yang pandai menggunakan media adalah guru yang bisa manipulasi media sebagai sumber belajar dan sebagai penyalur informasi dari bahan yang disampaikan kepada anak didik dalam proses belajar mengajar.

  1. Macam-macam Media

Klasifikasinya bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya. Berikut penjelasannya :

  1. Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam :
  2. Media Auditif, adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, dan piringan hitam.
  3. Media Visual, adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai), foto, gambar atau lukisan, dan cetakan.
  4. Media Audiovisual, adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Media ini dibagi lagi ke dalam:
    1. Audiovisual Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam, seperti film bingkai suara (sound slides).
    2. Audiovisual Gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar-gambar yang bergerak seperti film suara dan video kaset.

Pembagian lain dari media ini adalah:

  1. Audiovisual murni, yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber.
  2. Audiovisual tidak murni, yaitu yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder.
  3. Dilihat dari Daya Liputnya, Media dibagi dalam:
  4. Media dengan daya liput luas dan serentak. Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama.
  5. Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat. Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slides, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.
  6. Media untuk pengajaran individual. Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri.
    1. Dilihar dari Bahan Pembuatannya, Media Dibagi Dalam:
    2. Media Sederhana. Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh, harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.
    3. Media Kompleks. Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.
      1. Prinsip-prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media

Drs. Sudirman N. (1991) menegmukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori:

  1. Tujuan Pemilihan
  2. Karakteristik Media Pengajaran
  3. Alternatif Pilihan
  4. Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaan Media

Selain memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan sebagaimana diuraikan berikut ini:

  1. Faktor – faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Media Pengajaran.
  2. Obyektifitas
  3. Program Pengajaran
  4. Sasaran Program
  5. Situasi dan kondisi
  6. Kualitas Teknik
  7. Keefektifan dan Efisiensi Penggunaan
    1. Kriteria Pemilihan Media Pengajaran
    2. Pengembangan dan Pemanfaatan Media Sumber

Sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, media mempunyai beberapa fungsi. Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut :

  1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
  2. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru.
  3. Media pengajaran, penggunaannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
  4. Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
  5. Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
  6. Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan kata lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.

Ada enam langkah yang bisa ditempuh guru pada waktu ia mengajar dengan mempergunakan media. Langkah-langkah itu adalah :

  1. Merumuskan tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media.
  2. Persiapan guru
  3. Persiapan kelas
  4. Langkah penyajian pelajaran dan pemanfaatan media.
  5. Langkah kegiatan belajar siswa.
  6. Langkah evaluasi pengajaran.

 

BAB VIII

BEBERAPA TEKNIK

MENDAPATKAN UMPAN BALIK

Umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pelajaran berlangsung ternyata bermacam – macam, tergantung dari rangsangan yang diberikan oleh guru. Rangsangan yang diberikan guru bermacam – macam dengan tanggapan yang bermacam – macam pula dari anak didik. Rangsangan guru dalam bentuk tanya, maka tanggapan anak didik dalam bentuk jawab. Lahirlah interaksi melalui tanya jawab antara guru dengan anak didik. Sebaliknya, rangsangan anak didik dalam bentuk dalam bentuk tanya, maka tanggapan guru dalam bentuk jawab. Maka terjadilah interaksi dalam bentuk tanya jawab juga. Tetapi interaksi yang terakhir ini, anak didik yang bertanya dan guru yang menjawab atas masalah yang diajukan oleh anak didik setelah diberikan bahan pelajaran.

  1. Memancing Apersepsi Anak

Dalam mengajar, pada saat yang tepat, guru dapat memanfaatkan hal-hal yang menjadi kesenangan anak untuk diselipkan dalam melengkapi isi dari bahan pelajaran yang disampaikan. Tentu saja pemanfaatannya tidak sembarangan, tetapi harus sesuai dengan bahan pelajaran. Pendekatan realisasi ini dirasakan keampuhannya untuk memudahkan penegrtian dan pemahaman anak didik terhadap bahan pelajaran yang disajikan. Anak mudah menyerap bahan yang bersentuhan dengan apersepsinya. Bahan pelajaran yang belum pernah didapatkan dan masih asing baginya, mudah diserap bila penjelasannya dikaitkan dengan apersepsi anak.

Akhirnya, pengetahuan guru mengenai apersepsi dapat memancing aktivitas belajar anak didik secara optimal.

  1. Memanfaatkan Taktik Alat Bantu yang Akseptabel

Bahan pelajaran adalah isi yang disampaikan oleh guru dalam proses belajara mengajar. Untuk seorang guru yang kurang terbiasa berbicara dan kurang pandai memilih kata serta kalimat yang dapat mewakili isi pesan yang disampaikan dari setiap bahan pelajaran akan mengalami kesulitan untuk mengantarkan anak didik menjadi orang yang paham atas bahan yang diajarkan itu.

Jalan pengajaran yang kondusif adalah kondisi belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak didik. Kegairahan belajar anak didik terkuak sebagai implementasi dari luapan motivasinya. Anak didik giat belajar, tidak ada yang diam, sesuai dengan harapan guru. Apa yang guru perintahkan tidak mendapatkan bantahan dari anak didik, namun mereka menuntut aturan pengajaran yang guru buat. Anak didik belajar dengan konsentrasi tanpa mendapatkan gangguan yang berarti dari lingkungan sekitarnya. Kondisi belajar mengajar yang demikian itulah yang diinginkan, bukan seperti yang digambarkan diatas, yaitu anak didik bingung karena kurang mengerti penjelasan guru.

  1. Memilih Bentuk Motivasi yang Akurat

Motivasi memang merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang anak didik. Dalam usaha untuk membangkitkan gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu :

  1. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
  2. Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran.
  3. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik
  4. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
  5. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
  6. Menggunakan metode yang bervariasi. (Syaiful Bahri Djamarah, 1994:38)

Bentuk-bentuk motivasi yang dimaksud:

  1. Memberi angka (nilai)
  2. Hadiah
  3. Pujian
  4. Gerakan tubuh
  5. Memberi tugas
  6. Memberi ulangan
  7. Mengetahui hasil
  8. Hukuman
  9. Menggunakan Metode yang Bervariasi

Penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat menggairahkan belajar anak didik. Pada suatu kondisi tertentu anak didik merasa bosan dengan metode ceramah, disebabkan mereka harus dengan setia dan tenang mendengarkan penjelasan guru tentang suatu masalah.

Penggunaan metode yang bervariasi sebagaimana disebutkan diatas dapat menjembatani gaya-gaya belajar anak didik dalam menyerap bahan pelajaran. Umpan balik dari anak didik akan bangkit sejalan dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi psikologis anak didik.

 

BAB IX

PENGEMBANGAN VARIASI

MENGAJAR

 

  1. Tujuan Variasi Mengajar

Tujuan mengadakan variasi dimaksud adalah :

  1. Meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevansi proses belajar mengajar
  2. Memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi
  3. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
  4. Memberikan kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual
  5. Mendorong anak didik untuk belajar
  6. Prinsip Penggunaan

Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar itu adalah sebagai berikut :

  1. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi.
  2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan.
  3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar tersetruktur dan direncanakan oleh guru.
  4. Komponen-komponen Variasi Mengajar

Dalam komponen-komponen variasi mengajar dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu :

  1. Variasi gaya mengajar

Variasi dalam gaya mengajar ini adalah sebagai berikut :

  1. Variasi suara
  2. Penekanan (focusing)
  3. Pemberian waktu (pausing)
  4. Kontak pandang
  5. Gerakan anggota badan (gesturing)
  6. Pindah posisi
  7. Variasi Media dan Bahan Ajaran

Guna mempermudah pemahaman mengenai media pandang, media dengar, dan media taktil ini dapat diikuti uraian berikut :

  1. Variasi media pandang. Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, globe, dan sebagainya.
  2. Variasi media dengar. Suara guru adalah alat utama dalam komunikasi, dan ini telah pernah disinggung. Variasi dalam penggunaan media dengan memerlukan sekali saling bergantian atau kombinasi dengan media pandangan dan media taktil.
  3. Variasi media taktil. Komponen terakhir dari keterampilan menggunakan variasi media dan bahan ajaran adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran.
  4. Variasi Interaksi

Variasi dalam pola interaksi antara guru dengan anak didiknya memiliki rentangan yang bergerak daru dua kurub, yaitu :

  1. Anak didik bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur tangan dari guru.
  2. Anak didik mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru, dimana guru berbicara kepada anak didik.

Akhirnya dipertegas kembali bahwa variasi mengajar sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Komponen-komponen variasi mengajar seperti variasi gaya mengajar, variasi media, bahan ajaran, dan variasi interaksi, mutlak dikuasai oleh guru guna menggairahkan belajar anak didik dalam waktu yang ralatif lama dalam suatu pertemuan kelas.

 

BAB X

PENGELOLAHAN KELAS

Pengelolahan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, ialah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadi proses belajar mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya adalah, penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.

  1. Pengertian Pengelolahan Kelas

Pengelolahan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Pengelolahan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Sudirman N, dkk. (1991:310), pengelolahan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.

  1. Tujuan Pengelolahan Kelas

Suharsini Arikunto (1988:68) berpendapat bahwa tujuan pengelolahan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila :

  1. Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
  2. Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.

Jadi beda antara (1) dan (2) adalah pada (1) anak tidak tahu akan tugas atau tidak dapat melakukan tugas, dan pada (2) anak tahu dan dapat, tetapi kurang bergairah bekerja.

  1. Berbagai Pendekatan dalam Pengelolahan Kelas

Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut :

  1. Pendekatan Kekuasaan. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
  2. Pendekatan Ancaman. Cara mengontrol tingkah laku anak didik dengan cara memberikan ancaman, misalnya melarang, ejekan, dan lain-lainnya.
  3. Pendekatan Kebebasan. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
  4. Pendekatan Resep. Pendekatan resep ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi smeua masalah atau situasi yang terjadi di kelas.
  5. Pendekatan Pengajaran. Pendekatan ini berdasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan mencegahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah.
  6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku. Peranan guru disini adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
  7. Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial. Pendekatan ini pengelolahan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas.
  8. Pendekatan Proses Kelompok. Proses kelompok adalah usaha guru mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar.
  9. Pendekatan Elektis atau Pluralistik. Pendekatan ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali/guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan tersebut itu dalam suatu situasi yang dihadapinya.
  10. Prinsip – prinsip Pengelolahan Kelas

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolahan kelas, prinsip-prinsip pengelolahan kelas dapat dipergunakan. Maka, penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip pengelolahan kelas yang akan diuraikan berikut ini :

  1. Hangat dan antusias
  2. Tantangan
  3. Bervariasi
  4. Keluwesan
  5. Penekanan Pada Hal-hal yang Positif
  6. Pananaman Disiplin Diri
  7. Komponen-komponen Keterampilan Pengelolahan Kelas
    1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (Bersifat Preventif).
    2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
  8. Beberapa Masalah Pengelolahan Kelas

Keanekaragaman masalah perilaku siswa itu menimbulkan beberapa masalah pengelolahan kelas. Menurut Made Pidarta, masalah-masalah pengelolahan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa adalah:

  1. Kurang kesatuan
  2. Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok
  3. Reaksi negatif terhadap anggota kelompok
  4. Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya
  5. Mudah mereaksi negatif/terganggu
  6. Moral rendah
  7. Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah

Doyle (1986) memandang variabel masalah pengelolahan kelas dari sudut lain. Pendapatnya terungkap dari lima kategori masalah, yaitu :

  1. Berdimensi Banyak
  2. Serentak
  3. Segera
  4. Iklim kelas yang tidak dapat diramalkan terlebih dahulu
  5. Sejarah
  6. Penataan Ruang Kelas

Dalam pengaturan ruang belajar/kelas, hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Ukuran dan bentuk kelas
  2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
  3. Jumlah siswa dalam kelas
  4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
  5. Jumlah kelompok dalam kelas
  6. Komposisi siswa dalam kelompok

(Conny Semiawan, dkk., 1985:64)

Selain itu dalam pengaturan ruang belajar juga memperhatikan beberapa hal berikut ini :

  1. Pengaturan tempat duduk siswa
  2. Pengaturan alat-alat pengajaran di kelas atau pada ruang belajar
  3. Penataan keindahan dan kebersihan kelas atau ruang belajar
  4. Ventilasi dan tata cahaya yang ada pada bangunan ruang tersebut
  5. Pengaturan Siswa

Telah dijelaskan bahwa siswa memiliki bermacam-macam karakter dlam satu ruangan belajar atau ruangan kelas, dan itu juga mempengaruhi bagaiman keadaan persaingan di kelas itu sendiri.

  1. Pembentukan organisasi yang adil dan tidak memilih-milih pada sesama anak didik.
  2. Pengelompokkan siswa ditujukan agar dapat menyatukan antara karakter satu dengan yang lain dan dapat saling mengenal.

Pengelompokan siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

  1. Pembentukan kelompok diserahkan kepada siswa
  2. Pembentukan kelompok diatur oleh guru sendiri
  3. Pembentukan kelompok diatur guru atas usul siswa
  4. Pengelolahan Kelas yang Efektif

Menurut Made Pidarta untuk mengelola kelas secara efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.
  2. Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk anak pada waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok.
  3. Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku masing-masing individu dalam kelompok itu.
  4. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota-anggota.
  5. Praktik guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan siswa.
  6. Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah manapun.

CHAIRUL FADLI

Foto0412

IDENTITAS DIRI :

Nama : Chairul Fadli

Tempat Lahir : Bangkalan

Tanggal Lahir : 03 Maret 1990

Profesi : Mahasiswa

Kantor :

  1. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya

Riwayat Pendidikan :

1. SDN Demangan 01 Bangkalan (2001)

2. SMPN 02 Bangkalan (2005)

3. SMAN 01 Bangkalan (2008)

4. Universitas Muhammadiyah Surabaya, S1 Keperawatan ( angkatan 2008 )

Bidang yang Digemari :

1. Olahraga (Basket dan Sepak Bola)

2. Musik (Guitar)

FERLIANA ISHADI

Foto0384

IDENTITAS DIRI :

Nama : Ferliana Ishadi

Tempat Lahir : Bangkalan

Tanggal Lahir : 02 Juni 1990

Profesi : Mahasiswa/Guru PAUD

Kantor :

1. PAUD Aisyiyah Bangkalan

Kesukaan : Musik

Riwayat Pendidikan :

1. SDN Pejagan 02 Bangkalan (2001)

2. SMPN 03 Bangkalan (2005)

3. MAN Model Bangkalan (2008)

4. Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan (S1 Sosiologi 2008-2009, mengundurkan diri)

5. STKIP PGRI Bangkalan S1 Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (2010)

Bidang yang Digemari :

1. Sastra (Puisi dan Cerpen)

2. Musik (Vokal)

Tentang Saya :

Ferliana Ishadi lahir di Bangkalan, 02 Juni 1990. Ferliana adalah sosok wanita yang penuh dengan perasaan dan sangat pemikir terhadap suatu hal yang dia hadapi. Kesensitifan perasaannya inilah yang membuatnya bisa merasakan banyak hal yang dirasakan oleh orang-orang disekitarnya, dan dari semua itulah dia berusaha menuangkan segalanya ke dalam puisi-puisinya dan tulisan-tulisan ciptaannya. Saya mungkin memang bukan seorang penulis yang terkenal atau terekspos, namun bagi saya segala bentuk tulisan itu adalah inspirasi, inspirasi yang membawa kita bisa lebih baik karena kita sudah berani menuangkan segala perasaan dan pemikiran kita tentang suatu hal ke dalam tulisan itu sendiri. Saya hanyalah seorang mahasiswa dari satu PTS di Bangkalan, menjadi seorang mahasiswa yang bisa menulis dan mengarang bagi saya adalah satu hal yang sangat istimewa karena saya yakin setiap manusia pasti memiliki bakatnya masing-masing, dan hal itu adalah anugerahNya.

Saya adalah wanita yang paling menghargai suatu hubungan, tentunya hubungan yang bertanggung jawab dan sakral, karena hubungan antar pasangan itu adalah anugerahNya, anugerah yang harus dijaga dan dirawat hingga kita bisa mempertanggung jawabkan hubungan itu dalam satu ikatan yang sakral dalam hidup kita, yaitu pernikahan. Beginilah saya, saya hanya wanita sederhana yang kini telah bersama dengan lelaki yang saya cintai dan saya sayangi, yaitu chairul Fadli.

Pantangan Makanan Untuk Ibu Hamil

Selama kehamilan Anda harus tetap menjaga bayi yang ada dalam kandungan Anda dengan cara memberikan stimulasi, melakukan pemeriksaan kesehatan kehamilan secara teratur, memerhatikan pola makan sehari-hari, termasuk memerhatikan makanan-makanan apa saja yang perlu dimakan dan makanan-makanan yang harus dihindari.

Ibu hamil perlu mengonsumsi menu dengan gizi yang cukup dan seimbang. Asupan makanan yang bergizi memegang peranan penting dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan janin Anda. Beberapa makanan aman dan boleh Anda makan. Namun, ada juga beberapa makanan yang harus dipantang oleh ibu hamil selama masa kehamilan.

Beberapa pantangan makanan yang harus dihindari dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil adalah :

    1. Daging mentah
      Daging yang tidak dimasak ataupun dimasak hanya setengah matang harus dihindari. Berbagai macam resiko kontaminasi yang mengancam diantaranya bakteri coliform, toxoplasmosis (baca juga tentang TORCH), dan salmonella.

 

 

    1. Hot dog
      Makanan-makanan seperti hot dog dan sejenisnya berbahaya berbahaya bagi ibu hamil dan janin. Jangan makan makanan tersebut tanpa dipanaskan lagi atau dimasak lagi.Hot dog dan sejenisnya diketahui terkontaminasi listeria yang dapat menembus plasenta. Hal ini bisa menginfeksi janin dan menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan, diantaranya keguguran, kelahiran premature, keracunan dalam darah, dan berbagai masalah kesehatan bagi bayi yang baru lahir.

 

 

    1. Keju lunak
      Ibu hamil juga pantang memakan keju lunak seperti brie, camembert, blueveined cheese, keju dari susu kambing dan domba, karena banyak mengandung bakteri listeria.Keju semi lunak atau keju keras seperti mozarela, keju yang dipasteurisasai dalam bentuk potongan, lembaran, krim keju, masih lebih aman untuk dikonsumsi.

 

 

    1. Susu yang tidak dipasteurisasi
      Pantang memakan susu dan berbagai produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi. Minumanan tersebut perlu dihindari karena mengandung Listeria.

 

 

    1. Makanan yang terkontaminasi logam berat.
      Makanan laut seperti ikan atau kerang yang terkontaminasi logam berat seperti merkuri harus dihindari selama kehamilan. Merkuri berbahaya bagi kehamilan karena dihubungkan dengan kerusakan saraf otak dan keterlambatan perkembangan bayi yang dilahirkan nantinya.Ikan-ikan yang terkontaminasi (tercemar) limbah industry juga perlu dihindari selama kehamilan. Sungai atau danau yang berada di sekitar daerah industry cenderung terkontaminasi oleh limbah kimia sisa produksi pabrik. Akibatnya, ikan-ikan yang ada di dalamnya juga sudah tercemar. Hal ini juga sangat berbahaya dan beresiko bagi kesehatan ibu hamil dan janin.

      Kerang-kerang di laut juga dicurigai mengandung berbagai macam kontaminan. Demi keselamatan Anda dan bayi Anda, sebaiknya makanan ini dihindari selama kehamilan.

      Ikan-ikan yang tidak boleh dikonsumsi selama hamil adalah : ikan tuna steak, ikan sea bass, ikan hiu, dan ikan-ikan lainnya yang berukuran besar yang banyak mengandung merkuri.

 

 

    1. Telur mentah
      Telur mentah dan berbagai makanan yang mengandung telur mentah juga harus dihindari selama kehamilan karena mengandung salmonella.

 

 

    1. Alkohol
      Alkohol sangat dipantangkan bagi ibu hamil. Alkohol bisa mengganggu kesehatan dan perkembangan janin, diantaranya bisa menyebabkan gangguan masalah emosional pada bayi (lebih jauh tentang Alkohol dan kehamilan baca tentang Zat-zat Berbahaya Bagi Kehamilan).

 

 

 

    1. Sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak dicuci
      Sayur-sayuran dan buah-buahan sebenarnya sangat baik untuk ibu hamil. Namun, bila tidak dicuci dengan baik tentu harus dihindari dan dipantang selama kehamilan. Sayuran yang tidak dicuci bersih masih mengandung pestisida dan toksoplasma (lebih lanjut mengenai toxoplasma baca tentang TORCH).Hendaknya pada saat hamil ibu tidak mengonsumsi sayur lalap-lalapan dan salad, karena dikhawatirkan terdapat TORCH yang berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan bayi. Masak sayur sampai matang namun tidak terlalu lama, misalnya dengan cara dikukus, ditumis, agar zat-zat gizi didalamnya masih dapat dipertahankan.

      Sayuran dan buah yang tidak boleh dikonsumsi selama hamil diantaranya sayur Pare dan buah pepaya muda, karena beresiko menyebabkan keguguran. Pepaya muda (pepaya mentah) banyak mengandung papain enzim proteolitik yang bisa menginduksi terjadi keguguran. Pepaya muda juga mengandung carpain, sejenis alkaloid yang berbahaya bila dikonsumsi oleh ibu hamil dalam jumlah yang sangat banyak. Namun, pepaya muda boleh dikonsumsi ibu hamil bila diolah atau dimasak terlebih dahulu.

      Bagaimana dengan pepaya yang sudah matang? Jawabannya adalah boleh bahkan sangat boleh dikonsumsi karena pepaya sangat kaya vitamin dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh Ibu hamil.

 

 

    1. Merokok
      Pantangan tentang rokok ini tentu sudah tidak bisa ditawar lagi. Pada kondisi tidak hamil pun rokok bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Apalagi pada saat kondisi hamil, baik hamil tua maupun hamil muda. (lebih jauh mengenai rokok dan kehamilan baca tentang Zat-zat Berbahaya Bagi Kehamilan).

 

 

    1. Makanan kalengan yang mengandung pengawet
      Makanan-makanan yang mengandung pengawet,penyedap, dan pewarna tentu sangat dilarang untuk dikonsumsi ibu hamil. Hindari makanan seperti mie instan, dan makanan lainnya yang mengandung pengawet dan zat kimia berbahaya lainnya.

 

 

    1. Makanan yang mengandung gula pengganti/buatan
      Jika Anda menyukai makanan-makanan ringan (cemilan) pilih yang baik dan cukup terjamin kualitasnya. Makanan ringan yang mengandung banyak gula apalagi gula buatan harus dihindari atau dikurangi. Misalnya permen, biscuit berlapis krim, soft drink.Makanan tinggi kandungan gula selain bisa meningkatkan resiko kegemukan, juga bisa menyebabkan kerusakan gigi, diabetes, jantung dan kanker usus besar.
    2. Makanan ringan yang tinggi lemak
      Camilan yang tinggi lemak seperti kentang goreng, keripik, cokelat, atau es krim sebaiknya juga harus dibatasi. Hindari pula makanan cepat saji /fastfood karena selain tinggi lemak, makanan fastfood juga tinggi kalori dan garam. Makanan yang tinggi garam bisa menyebabkan Anda kekurangan sodium.Jika memang ingin ngemil, lebih baik Anda menggantinya dengan makanan ringan yang sehat dan rendah lemak, seperti buah apel, jagung bakar atau rebus, yogurt, es krim rendah lemak, kroket atau risoles isi sayuran dan daging.

 

 

    1. Makanan yang mengandung kafein
      Sebaiknya selama kehamilan asupan minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan teh harus dikurangi (tidak lebih dari 2 cangkir sehari). Hal tersebut karena kafein bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, ibu hamil mengalami keguguran.Kefein menekan kelenjar adrenalin dan memicu banyak hormon stress ke dalam aliran darah. Hal ini akan menimbulkan efek negative bagi ibu hamil dan janin yang dikandung.

      Selain itu, asam tannin dalam teh dapat mengganggu/mengurangi penyerapan zat besi, yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Kafein dan tannin dalam jumlah yang banyak juga tidak baik untuk bayi.

 

 

    1. Makanan/diet rendah karbohidrat
      Ada beberapa ibu hamil yang mengurangi asupan karbohidrat dengan alasan untuk menjaga berat badan selama hamil. Padahal hal ini tentu tidak boleh dilakukan, karena janin dalam kandungan membutuhkan gizi yang cukup. Anda juga tidak dianjurkan untuk berpuasa lama.

 

 

    1. Makanan olahan yang dipanaskan kembali
      Dalam makanan olahan yang dipanaskan kembali zat gizinya telah berkurang atau hilang akibat pengawetan, pemanasan dan pendinginan.

 

    1. Pantang makan dan mengonsumsi obat-obat herbal dan vitamin dosis tinggi, atau obat-obatan lainnya tanpa pengawasan dokter.

 

  1. Pantang makan makanan yang terlalu tinggi kandungan vitamin A nya.
    Batasi konsumsi makanan yang telalu tinggi kandungan vitamin A nya seperti hati, karena dikhawatirkan bisa membawa dampak buruk pada janin yang dikandung yaitu timbulnya cacat lahir pada janin.

Jaga dan perhatikan selalu asupan gizi dan makanan yang Anda makan. Semoga kehamilan Anda selalu sehat dan berjalan lancar.

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.